Tuesday, July 23, 2013

Just a Simple Wish



Judul: Just a Simple Wish
Cast: YongSeo, Snsd, CN Blue
Genre: Romantic
Rating: NC-17

            Setelah turun dari mobil, aku segera melangkahkan kakiku ke lantai empat. Aku tinggal di sebuah apartemen di daerah kota. Aku menekan empat buah digit angka di sebuah panel pintu di lantai empat, 2228. Pintu pun terbuka dan aku melihatnya. Ia berdiri di balik pintu dengan senyum yang selalu menarik perhatianku. Lelah karena konser selama dua hari dan perjalanan selama tiga jam dari Jepang ke sini, hilang begitu melihatnya.
            Welcome back,” sapanya. Sepertinya bukan aku saja yang merasa senang telah kembali. Ia merentangkan kedua tangannya dan saat itu juga aku langsung menghambur ke pelukannya.
            Seminggu tidak bertemu dengannya membuatku sangat merindukannya. Aroma parfum kesukaannya menguar kuat dari lehernya. Aku suka sekali. Pelukanku semakin erat, ia juga.
            “Aku kangen kamu,” ucapku, tanpa berusaha menutupi yang kurasakan, meskipun aku tahu ia pasti tahu kalau aku merindukannya, tapi ia lebih senang jika aku mengutarakannya.
            “Aku juga,” balasnya seraya mempererat pelukan kami. Tak lama, ia merenggangkan pelukannya dan melepasku, sempat agak tidak rela sebenarnya karena aku ingin lebih lama memeluknya.
            Ia menarik tanganku menuju meja makan kecil yang sudah penuh dengan makanan. “Aku udah bikin makanan buat kamu,” ujarnya dengan wajah yang terlihat senang dan sedikit bangga.
            Aku duduk di salah satu bangku dan ia duduk di seberangku. Ia menatapku dengan penuh harap ketika aku memasukkan sesuap cream spagheti buatannya ke dalam mulutku.
            “Enak banget,” ucapku dengan tulus. Kemampuan memasaknya benar-benar meningkat dibandingkan dengan tiga tahun lalu.
            Ia terlihat senang sekali dengan pujianku. Well, aku rasa setiap wanita akan senang jika dipuji. Dulu, aku pernah lupa memujinya ketika ia memakai kalung pemberianku dan itu membuatnya sedih dan cenderung marah sebenarnya.
            Setelah kami menghabiskan makanan yang ia siapkan, ia membereskan dan mencuci piring-piringnya. Aku memperhatikan punggungnya, sebuah pemandangan yang paling kusuka. Tanpa bisa kukontrol, tahu-tahu tanganku sudah memeluk tubuhnya dari belakang. Ia sempat terkejut, tapi tidak menolak pelukanku.
            Seems like you become prettier, Hyun,” ujarku di telinganya.
            Aku bisa melihat kalau ia tersenyum. “I really love your perfume.” Lalu kudaratkan sebuah kecupan di lehernya.
            Ia menghentakkan tanganku, mendorong tubuhku, menatapku nanar dengan kedua tangan di pinggangnya. “I’ve told you—”
            “Iya, iya, kamu nggak suka. Maaf.” Aku memotong kalimatnya. Ia memang benci sekali jika aku menyentuh lehernya karena itu adalah salah satu tempat tersensitifnya.
            “Kalo orang lagi ngomong itu jangan dipotong, nggak sopan.” Ia malah terlihat semakin marah sekarang.
            “Iya, maaf,” kataku lagi, tidak sepenuhnya menyesal, padahal dulu ia tidak akan bisa marah seperti seperti ini.
            Ia masih menatapku dengan mata tajamnya. Jika matanya itu bisa mengeluarkan laser, aku pasti sudah hangus. “Iya, Hyun, maaf. Jangan marah mulu ah, kan aku baru pulang.” Aku mencoba membujuknya.
            “Lagian Oppa ngeselin,” jawabnya dengan nada ketus.
            “Iya, tapi kan aku udah minta maaf.” Aku masih berusaha membujuknya.
            “Jangan deket-deket!” perintahnya padaku yang mendekatinya. Suaranya itu terdengar seperti perintah dari komandan ke bawahannya.
            Dengan menekuk wajah, aku membalikkan tubuhku dan berjalan menuju sofa yang berada agak jauh dari dapur. Setelah memastikan aku berada jauh darinya, ia melanjutkan kegiatan mencuci piringnya. Aku menggonta-ganti saluran televisi dengan kesal. Tidak ada satu pun acara televisi yang menarik perhatianku. Jadi, aku mematikan televisi dan mulai googling dengan Ipad milikku. Foto-foto kedatanganku di bandara tadi mendominasi berita hari ini. Tanpa kusadari, ternyata ia sudah duduk di sebelahku dan ikut membaca.
            “Nggak ada oleh-oleh?” tanyanya dengan suara yang terdengar biasa dan mata yang tetap tertuju pada layar Ipad.
            “Ada, tapi males ngambilnya, nanti aja,” kataku yang masih agak kesal.
            Lagi-lagi ia menatapku tajam. “Iya, iya, aku ambil sekarang.” Aku bangkit dari sofa, membuka tasku yang berada di dekat meja makan, mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru tua. Ia langsung membukanya begitu aku memberikannya.
            “Wow, bagus banget, Oppa.” Dan matanya berbinar senang, sepertinya ia benar-benar telah melupakan kekesalannya tadi.
            “Iya dong, siapa dulu yang beli?” sahutku dengan bangga. “Ini samaan lho, liat.” Aku memamerkan sebuah gelang perak di tangan kananku. Lantas kupakaikan sebuah gelang yang sama persis dengan milikku di tangan kirinya. Setelah itu kami berfoto bersama, memamerkan gelang kami.
            “Makasih, Oppa,” ucapnya dengan senyum lebar dan pandangan hangat.
            Aku menunjuk-nunjuk bibirku. Seketika itu juga, pandangan hangat dan senyum lebarnya menghilang.
            “Oke, nggak jadi. Aku cuma bercanda,” kataku buru-buru meralat sebelum ia kembali meradang. “Nanti kamu pake kan gelangnya ke premiere?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
            “Nggak ah, nanti ketauan kalo kita samaan lagi,” tolaknya dengan datar.
            “Kok gitu? Aku kan udah beliin, masa nggak dipake?” Jelas aku tidak terima dengan penolakannya.
            “Selama ini orang-orang udah pada curiga sama kita, Oppa,” katanya.
            “Ya, terus kenapa? Toh kita emang beneran pacaran.”
            “Iya, tapi kita kan nggak bisa semudah itu ngaku, Oppa. Karir kita bisa berhenti.”
            Perdebatan reguler kami pun bergulir kembali. Kami adalah pasangan selebriti. Ia termasuk dalam salah satu anggota girlband paling populer saat ini dan aku adalah anggota band rock yang sedang naik daun. Kami sudah berpacaran selama tiga tahun. Tadinya kami hanya mengikuti sebuah acara variety, We Got Married, selama setahun. Akan tetapi, setelah program itu berakhir, aku tidak bisa melupakannya dan aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku. Dengan malu-malu ia menerimaku dan kami pun masih bertahan hingga saat ini. Mengumumkan hubungan kami secara terang-terangan adalah hal yang tidak diperbolehkan oleh agensi kami, terutama agensinya. Memuakkan sebenarnya karena kami harus sembunyi-sembunyi, tapi daripada aku tidak bisa memilikinya, itu lebih memuakkan.
            “Ya udah ah, terserah, mau dipake atau nggak,” kataku dengan nada ketus. Lalu bangkit dari dudukku.
            “Mau ke mana kamu?”
            “Siap-siap ke premiere,” jawabku, masih dengan nada ketus.
            “Tuh marah deh. Kamu kan tau aku bukannya nggak mau pake gelang dari kamu, tapi nanti kita dateng ke acara yang sama, Oppa. Pikirin reaksi orang-orang kalo kita dateng ke satu acara yang sama terus pake gelang yang sama.” Ia berusaha menjelaskan sikapnya.
            “Ya, makanya aku bilang terserah mau dipake atau nggak.”
            Aku mendengar ia menghela napas dalam. Ia bangkit dan berdiri di hadapanku. “Jangan marah.” Ia mengelus-elus pipi kiriku. Setelah itu, sebuah kecupan ia daratkan di bibirku.
            Aku masih suka terkejut jika ia bersikap seperti ini karena dulu, untuk berpegangan tangan saja kami membutuhkan waktu lima bulan. Namun, sekarang, ia bisa dengan tiba-tiba menciumku, seperti yang tadi ia lakukan. Kutarik pinggangnya dan menciumnya dan ia membalasnya tanpa segan-segan.
            “Iya, nanti aku pake gelangnya. Puas?” katanya setelah aku melepasnya.
            Aku tersenyum lebar lalu mengangguk. “He-eh.”
            Malam itu kami tidak datang berbarengan ke acara peluncuran film Mr. Go. Ia datang dengan dua anggota girlband-nya—Taeyeon dan Yoona—dan aku datang dengan anggota band-ku yang lain—Jonghyun, Jungshin, dan Minhyuk. Kehadiran kami benar-benar menjadi berita dan paling populer dibicarakan di internet. Netizen juga memergoki gelang kami yang sama. Sebenarnya aku tidak pernah takut jika hubungan kami terbongkar, tapi posisinya bisa terancam dan baginya yang terpenting saat ini adalah karirnya. Aku tahu perjuangan yang ia lakukan untuk jadi seperti sekarang ini tidaklah mudah. Jadi, ketika agensi menekan kami untuk mengakhiri hubungan kami, aku menyetujuinya karena agensinya takut dengan skandal-skandal yang semakin banyak tentang kami akan mempengaruhi karirnya.
            Ia menangis sesunggukan dan jangan dikira aku tidak. Aku berusaha meyakinkannya kalau inilah yang terbaik buatnya dan itu malah membuat tangisnya semakin deras. Melepasnya saat ini adalah pilihan yang terbaik, aku mengulang kalimat itu berkali-kali di benakku, berharap dapat mengurangi perih di hatiku.
2228
            Sudah empat tahun sejak aku melepasnya. Ia benar-benar sudah terkenal di seluruh pelosok dunia, bahkan ketika aku ke Yogyakarta, sebuah kota di Indonesia, dua minggu yang lalu, ada beberapa orang yang menanyakan kabarnya padaku. Ah… membuatku rindu saja. Bukan pekerjaan mudah melepasnya, bahkan sampai sekarang aku masih mencintainya. Ia adalah wanita pertama yang membuatku benar-benar mencintainya.
            Hyung.” Suara Jungshin yang tiba-tiba masuk ke kamarku membuatku terperanjat.
            “Apaan, sih?” kataku yang merasa terganggu.
            “Liat deh.” Ia menyodorkan Ipad miliknya dan menunjuk sebuah artikel.
            “Seohyun memiliki tato?” aku membaca judul artikel tersebut dengan nada bingung. Sejak kapan ia menyukai tato? Karena mulai tertarik dengan berita itu, aku kembali membacanya.
            Siang tadi (17/06), Seohyun yang baru saja kembali dari konsernya di Jakarta, Indonesia, terlihat memiliki tato di siku tangan kanannya. Sepertinya bukan tato permanen dan yang menarik lagi adalah tato tersebut menggunakan huruf asing, bukan hangul. Belum ada yang mengetahui arti dari tato tersebut.
            Lalu beberapa fotonya terpajang. Aku bisa melihat dengan jelas tato yang dimaksud. Tatonya ditulis menggunakan huruf Sansekerta dan aku tahu arti dari tato tersebut karena aku memiliki tato yang sama di siku tangan kiriku. Salah satu fans kami yang menawarkanku untuk membuat tato dengan huruf Sansekerta ketika aku berkunjung ke Yogyakarta. Arti dari tato itu adalah YongSeo, Yonghwa- Seohyun, namaku dan namanya. Namun, netizen belum menyadari tatoku karena selama ini aku menutupinya dengan memakai baju-baju berlengan panjang.
            “Lo janjian, Hyung?” tanya Jungshin yang juga terlihat terkejut dengan berita itu.
            Aku menggeleng. “Nggak. Ahh… gue seneng, Jungshin. Hahahaha….” Aku memeluk Jungshin saking senangnya.
            “Kalo ternyata Hyun nggak ngerti sama maksud dari tato itu gimana, Hyung?”
            Senyum di wajahku langsung hilang dan kudorong tubuh Jungshin menjauh. “Heh! Elo tuh ya, nggak bisa banget ngeliat gue seneng,” marahku.
            “Hehehehe piss, Hyung.” Ia membuat tanda “V” dengan jarinya lalu lari keluar dari kamarku.
            Tiga hari setelah itu, tato miliknya diketahui berasal dari bahasa Sansekerta, bahkan artinya pun telah diketahui. Itu menjadi berita yang heboh tentu saja. Ia menjadi pencarian paling populer di internet. Agensinya belum mengeluarkan pernyataan resmi atas berita itu. Seohyun ceroboh. Dulu aku melepasnya karena tidak ingin karirnya hancur atas skandal kami. Namun, lihat sekarang. Ia malah menimbulkan berita sebesar ini, meskipun aku senang juga ia memiliki tato itu dan mempublikasikannya.
2228
            Ia di sana, sedang berbicara dengan salah satu artis lelaki senior di agensinya, Jung Mo. Menyebalkan sekali melihatnya, apalagi ketika mereka tertawa dengan lepasnya. Aku tidak melepaskan pandanganku dari mereka hingga Jung Mo menyadarai kehadiranku dan menyenggolnya. Akhirnya aku memutuskan untuk menghampiri mereka. Kupasang sebuah senyum palsu di bibirku.
            Hyung,” sapaku pada Jung Mo yang memang lebih tua dariku seraya mengulurkan tangan.
            “Yonghwa,” sahutnya yang menyambut uluran tanganku. “Ngapain ngeliatin dari jauh aja?” belum apa-apa ia sudah melemparkan pertanyaan yang cukup menohokku.
            “Ah… nggak apa-apa, abisnya tadi kayaknya lagi asik banget ngobrolnya. Jadi nggak enak nyamperinnya,” jawabku sekenanya.
            “Yaelah, masih aja jealous sama gue,” sindirnya lalu tertawa.
            Aku juga ikut tertawa. Sial. Bagaimana bisa aku tidak cemburu padanya? “Nggak, Hyung, gue biasa aja,” dustaku.
            “Hahahahaha iya deh deh, terserah,” sahutnya. “Seohyun, gue duluan ya,” pamitnya pada Seohyun yang lalu menganggukkan kepalanya. “Yonghwa, stop being jealous with me.” Ia memasang tampang serius ketika mengatakan itu.
            “Iya, Hyung,” sahutku sekenanya. Lelaki mana yang tidak cemburu padanya coba?
            “Halo, Oppa, apa kabar?” sikap Seohyun terlihat santai, tapi aku tetap merasakan kecanggungan.
            “Baik,” jawabku, meskipun tidak sepenuhnya begitu. “Tatonya keren, artinya apa?” aku menunjuk siku tangan kanannya dengan mataku.
            “Ahh… ini?” ia memperlihatkan tatonya padaku. Ini huruf Sansekerta. Waktu ke Indonesia sempet jalan-jalan ke Yogyakarta sama Bali terus pas di Yogyakarta, ada fans yang nawarin buat bikinin tato gratis. Ya udah, aku mau aja.” Pemaparannya itu tidak menjawab pertanyaanku.
            “Jadi, kamu nggak tau artinya?” selidikku dengan nada tak sabar.
            Ia menggangguk. “Tau, bukannya Oppa juga tau?”
            “Hah? Ah iya, dari internet,” jawabku yang tidak sepenuhnya berdusta.
            “Bukannya Oppa uda tau artinya jauh sebelum para wartawan tau?”
            Oke, itu bukan sekadar pertanyaan. Lihat matanya itu, meskipun ia memasang tampang innocent, tapi matanya menatapku tajam, siap menembakkan laser jika aku salah bicara.
            “Hmm…” aku ragu-ragu sejenak, bingung sebenarnya ingin jawab apa. “iya, tau.”
            Ia menganggukkan kepalanya. “Oh… tau dari mana?”
            Sebenernya apa yang ingin ditanyakan olehnya? Ia membuatku bingung.
            “Ah, itu…” aku menggantungkan kalimatku. “kamu kenapa nunjukin tato itu ke orang-orang? Sekarang jadi gede gini beritanya, nggak takut?” sebuah pertanyaan pengalih perhatian kuajukan padanya.
            Ia mendengus, mungkin kesal karena aku tidak menjawab pertanyaannya.        “Kenapa? Oppa takut?”
            Aku mendengar nada menantang di suaranya. “Hyun, aku ngelepas kamu biar kamu nggak kena skandal. Kenapa sekarang malah kamu sengaja bikin skandal, sih?”
            Oppa, keganggu ya, sama beritanya? Maaf, tapi aku nggak bakal berusaha buat nutupin tatonya.”
            “Hyun—”
            I just don’t wanna be a coward again, Oppa,” ucapnya dengan tegas. Dari matanya juga aku tahu kalau ia serius.
            “Nona Seohyun, dua menit lagi.” Seorang staf acara musik yang kami hadiri hari ini, memberitahukan waktu tampil grup Seohyun.
            “Oke, terima kasih,” sahutnya dengan senyum ramah yang ditujukan pada staf yang seorang lelaki itu dan staf itu senang bukan main karena diberi senyum oleh Seohyun. Cih, menyebalkan.
            Matanya kembali tertuju padaku. “Aku duluan, Oppa,” pamitnya.
            “Hem.” Aku menganggukkan kepalaku.
            Punggungnya itu, punggung yang kurindukan. Tanpa sadar aku menghela napas dalam-dalam. Sepertinya rindu empat tahunku tidak dapat tertahankan lagi. Sebuah ide pun terlintas di benakku. Aku tahu ide itu berbahaya, tapi aku tidak peduli.
2228
            “Seohyun, laki lo tuh,” ucap Fany seraya menyenggolku yang sedang membaca sebuah buku belum yang lama ini kubeli.
            Aku mengangkat kepalaku dan mengarahkannya ke satu-satunya televisi yang ada di ruang tunggu kami. Aku melihatnya, ia memakai sebuah kemeja lengan panjang berwarna biru cerah yang lengannya ia lipat hingga siku serta celana denim berwarna biru dongker. Seperti biasa, ia terlihat begitu kharismatik.
            “Oh My God!” seru Fany tiba-tiba.
            “Awww!” Yoona dan Sooyoung juga ikut bersuara.
            Mereka heboh karena Yonghwa beberapa kali membuat gerakan tangan dengan tangan kirinya dan itu membuat sebuah tato di siku kirinya terekspos. Awalnya aku tidak yakin dengan arti tatonya itu, tapi karena ia sengaja memperlihatkannya berkali-kali, aku jadi yakin kalau tatonya itu adalah tato yang sama denganku. Bibirku mengembangkan senyum lebar, mungkin siapa pun akan tahu kalau aku sedang senang.
            “Seohyun, dia juga punya tato itu?” tanya Taeyeon, leader di grup kami.
            “Aku juga baru tau, Eonni,” kataku yang memang baru tahu dengan tatonya itu.
            “Ejieee, Seohyun, girang banget kayaknya,” goda Sooyoung.
            “Ahh, Eonni….” Kusentuh rambutku dan ini adalah hal yang kulakukan ketika aku sedang gugup.
            Godaan dari semua anggota di grup-ku tidak kupedulikan. Aku terlalu senang dengan tindakan lelaki itu. Orang yang mentatoku tidak mengatakan kalau Yong Oppa juga memiliki tato yang sama. Ia hanya memberitahuku kalau Yong Oppa tahu arti dari tatoku ini. Aku bangkit dari dudukku, buku yang kubaca tadi sudah kutelantarkan sejak tadi, keluar dari ruang tunggu kami dan pergi menuju ruang tunggu Yong Oppa.
            Ketika aku membuka pintu, tidak ada satu orang pun terlihat di dalamnya. Itu berarti mereka belum kembali. Aku duduk di salah satu bangku yang ada di ruangan itu. Kuketuk-ketukkan kakiku ke lantai dengan tak sabar. Tak lama, pintu dibuka dan masuklah Jungshin, disusul Minhyuk, Jonghyun, dan terakhir lelaki itu—lelaki yang membuatku nekat memamerkan tato dengan arti “YongSeo” di tanganku kepada orang banyak. Mereka terlihat terkejut dengan kehadiranku.
            “Eh, halo, Seohyun,” sapa Jungshin.
            “Hai,” sahutku. “Kalian keren lho, tadi,” pujiku.
            “Makasih. Kamu juga keren tadi,” balas Jonghyun.
            “Beli minum, yuk. Haus nih,” ajak Minhyuk cepat-cepat pada Jungshin dan Jonghyun yang lalu diiyakan.
            Mereka pun keluar dari ruang tunggu menyisakan aku dengannya. Aku tahu mereka hanya ingin memberikan kami waktu dan aku berterima kasih untuk itu. Ia terlihat salah tingkah ketika aku menatapnya.
            “Tatonya keren.” Aku membuka percakapan karena ia tak kunjung bersuara.
            “Ini?” ia juga memperlihatkan tato di siku tangan kirinya seperti yang tadi aku lakukan. “Ini tulisannya ‘YongSeo’; Yonghwa dan Seohyun.”
            “Wah, kok tato kita bisa sama ya?”
            “Takdir?” ucapnya dengan sebuah seringaian di bibirnya.
            “Mungkin,” sahutku. “Ini bakal heboh lho, nggak takut?”
            I don’t wanna be a coward again.” Bahkan ia mengulang kalimatku tadi.
            Aku tersenyum lebar, senang. “Makasih, Oppa.”
            Ia berjalan mendekatiku. “Sama-sama, yeobo.”
            Aku memeluknya. Sudah empat tahun aku tidak memeluknya, badannya terasa lebih berisi dan berotot, terutama tangannya. Aroma parfumnya menenangkan. Penyesalan karena dulu telah melepasnya, hilang ketika aku memeluknya. Lelakiku.
            Kukecup lehernya dan itu membuatnya tertawa. Kulepaskan pelukanku dan memandangnya tajam. “Kenapa?”
            “Sejak kapan kamu jadi suka nyium leher aku?”
            “Ah, itu… aku….” Aku gelagapan menjawab pertanyaannya yang membuatku gugup dan salah tingkah.
            Ia memegang kedua pipiku. “Kamu-lucu-kalo-lagi-salah-tingkah.” Setiap jeda itu ia isi dengan mengecup bibirku.
            Aku mendorong tubuhnya dan memukul tangannya. “Ish, Oppa.”
            Ia malah tertawa lalu memelukku lagi. Aku juga balas memeluknya. Ia adalah lelaki pertama yang membuatku mengerti tentang cinta. Jadi, mana mungkin aku melepasnya begitu saja? Dulu aku bodoh, tapi tidak sekarang. Aku tidak akan peduli lagi dengan yang orang-orang katakan. Aku hanya tidak ingin kehilangan lelaki yang berarti bagiku.
2228
            Ketika kubuka mataku, hal yang pertama kulihat adalah dia, Hyun-ku, wanitaku. Ia masih terlelap di sampingku. Napasnya teratur dan ia terlihat tenang sekali. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mengecup keningnya. Namun, tindakanku itu malah membuatnya membuka mata.
            Morning,” sapanya, masih dengan suara serak.
            Morning,” sahutku. “Enak tidurnya?”
            “Hem.” Ia memelukku. “Aku mau tidur sebentar lagi.”
            Kuelus rambutnya yang sangat halus. “Kayaknya sekarang kita jadi selebriti yang paling dicari lho.”
            “Biarin.”
            Aku tertawa mendengar jawabannya. “You’ve really changed, Hyun. You’ve become bravier.”
            Is it a compliment?”
            “Hmm… we can say like that.”
            Well, it’s you who changed me, Oppa. You didn’t like it?”
            Aku pura-pura memikirkan jawabanku. “Well, I don’t mind since I like it, especially when you kiss me. Hehehehe….”
            Like this?” lalu ia mencium leher, pipi, dan bibirku.
            Yeah, like that. I love you, Hyun.”
            I love you too, Yong Oppa,” balasnya. “So, now can I sleep again?”
            “Hahaha… iya, sayang, kamu bisa tidur lagi,” jawabku seraya mempererat pelukan kami.
            Seo Juhyun, gadis lugu yang membuatku jatuh hati, kini menjadi gadis pemberani dan bisa menunjukkan emosinya. Ia juga yang dulu canggung ketika pertama kali kami berpegangan tangan, kini bisa dengan mudahnya memberiku sebuah ciuman. Seohyun, Hyun-ku, dulu gadisku, sekarang wanitaku. Aku tidak peduli lagi dengan agensinya, aku hanya ingin bersamanya. Apa selebriti tidak boleh jatuh cinta dan menjalin hubungan? Aku dan Seohyun tetap hanya manusia, tidak lebih dan kami ingin bersama. Itu tidak berlebihan kan? Keinginan yang sederhana, tapi kadang menjadi sulit diwujudkan bagi kami, selebriti. Namun, sekarang aku hanya ingin menikmati hidupku.
           
           


           
            100713-220713
Gemala Dwie Areta
@wii_here
Gemala_dwi

21 comments:

  1. annyeong eonnie, i'm here to fulfill my promise haha
    i've read it. it's simple line but so sweet till the last words. i like it ^^
    i hope uri yongseo will be in real marriage soon.. amiin
    keep writing eonnie and fighting~

    ps, you asked me abt sanserkta back then b/c of this? haha ahrasso

    ReplyDelete
    Replies
    1. ㅋㅋㅋㅋ 고마워~~ gomawo~~
      i'll try to writing more..

      p.s: yeah, this is why I asked you bout sansekerta.. hehehe

      Delete
  2. Dwi unnie...do you know me? Lol...I bet you don't know me, but I know you..hahaha
    Thanks for the story, unnie. It's totally sweet (too sweet for me, but I didn't mind at all haha...). I like you choose Yogyakarta for this story and sanskrit language for the tattoo..
    Honestly, it's the first time I read yongseo ff in bahasa, but I like it..hehehe..
    Keep writing unnie, I'll wait for your another story, fighting!
    Ps: sorry for my messy english..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. is it itta? or puji? am i right? *or wrong ㅋㅋㅋ
      well, thank you very much..
      honestly, i really want have a tattoo like that hehehe
      i'll try my best to writing ff again hehe

      p.s: your english seems fine to me :-)

      Delete
  3. Unnie, Finally.. Itta is here.
    Are u waiting for my comment?
    Kekekeke.
    Ceritanya simple tp sweet!!
    Suka. Apalagi tiap bagian hyun yg marah ama yong. Kekekeke
    hopefully that ys would be end up as sweet as ur story. Fighting unnie n keep going to write a lot of ys's story.
    Chuuu~ :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah thank you, dongsaeng..
      i'll try my best :-)
      ahh.. i really want it too.. semoga mereka nikah beneran kekekeke

      Delete
  4. Annyeong..finally I read your FF ^^
    Btw I'm not good at commenting..kekeke.. but I always love yongseo story.
    Like everyone said..its simple and sweet.. So keep on writing and make another sweet yongseo story. Hwaiting!!
    I always hope yongseo will be marriage soon in real life. I believe all gogumas expect the same :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahh.. finally Kiki unnie ㅋㅋㅋ
      thank you, unnie.. :-*
      i really hope they're get married too..

      Delete
  5. Siska dataaaannggg....

    Hihi.....
    Mianhae unni baru bisa bacaa ㅠ.ㅠ
    Sibuk kerja /plak/
    Yg laen komen pke b.ing aku pake b.indo gpp ka yah? Hoho...

    Awal2nya bingung ini POVnya siapa..
    Baru sadar pas mrka makan bareng... oh ternyata yong POV
    Trus pas d tgh2 ad pergantian POV jd k hyun kan yah? Nah itu jg dikit bingung. Tp ketolong karna kalimat pertamanya buat kita tau kalo itu hyun POV trua ganti lg jd yong ampe terakhir...

    Ceritanya suka banget akuuu....
    Hyun skrng jd lbh berani berekspresi.
    Trus yong masih so sweet dan sangat nurut ama hyun~ /suami idaman/

    Cuma bingung d tata bahasa ama POVnya aja...
    Selebiihnya kereeeeennnnnn.......!!!!!!!! Paje bangetzzzzzzz...... hihihi...

    Kall buat ff yongseo lagi kasih tau aku lagi yah un... tp blm tntu langsung di baca.... hihihi ..

    Fightiiiing unniiii ^0^)/

    ReplyDelete
    Replies
    1. sissskkaaa... muaciihhh..
      itu hyun begitu kan aku ajarin hahahaha
      iyaa, aku emang sengaja ga ngasih keterangan itu pov-nya siapa.. hehe
      iyaa, nanti aku bilang lagi ke kamu, sis.. harus dibaca tapi *eh maksa haha
      anyway, makasih banget, siska..

      Delete
  6. hallo,seilaa ni.Aku menuhin janji unuk baca and comment.
    seru ya critanya,sweet and lucu lia yonghwa yg kayaknya kok in love amat sama hyun.
    aku jg suka bikin cerita,tp blm pernah bikin yongseo,nanti kl aku bikin,diliat ya.
    aku paling suka bagian yg hyun jd lbh dewasa dan gak sungkan lagi untuk mendaratkan ciuman di bibir yonghwa.Memang seperti itu kan perempuan pada umumnya,kalau sudah terbiasa dlm menjalani hubungan,nanti akan berani menunjukkan bentuk sayangnya ke kekasihnya,menunjukkan kenyamanan yang dia rasakan dalam sebuah hubungan.
    bikin lagi coba,yang cinta segi tiga mungkin.

    nice story,keep writing,okay.
    seilaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. halloww, seila.. maacih uda mampirr.. hehehe
      aku emang berharap Hyun jadinya seberani aslinya sama Yong hehehe
      ini juga ff pertama yg jadi lho.. hahaha
      iyaa, bilang2 ya nanti kalo bikin..
      makasih lagi, seil.. :-)

      Delete
  7. bagus ko aiy. tapi gue gaa begitu ngerti sama kebiasaan yongseo, you know lah bias gue siapa hehe. gaya bicaranyaa kaya gaya bicara lu tau haha apal banget gue sama gaya bicara lu. keep writing aiykuh :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iyaa, tau gue..
      hah? gue banget? emang ya?
      anyway, makasihhh aiicutkuh muah muah :*

      Delete
  8. kak udah baca lhooo... membayangkannya saja bikin merindingg hahaha congrats:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. huahahaha makasih yaa uda bacaa.. :-*

      p.s: mana yg bikin merinding deh? hahahaha

      Delete
  9. hahaha sorry mayori strowberry wii unn baru nemu blog ini,,
    ini sweet pake banget.. bikin nyengir gak jelas hahaha
    keep writing unn, fighting !! :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, ga papa, mit.. ini udah lama aku bikin juga hehehe..
      Makasihh, ya, udah baca hehehe..

      Delete
  10. Sukaaaaaaa. Tp kurang bedscene nya. Wkwkwkw. Kapan bkin ff ys lagi niy? Kangennnn euy. Jd inget lagu one fine day 😢😢 tp gpp asal mrka happy ending yaa. Fighting eonnie bikin lg yg bnyak yaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha dasar byuntae..
      Akhirnya baca juga nih anak.. makasih banget banget, yaa..😘😘

      Delete
  11. Titanium Auto Sales Sales 2021 - TITanium Robotics
    TITanium is titanium ingot a supplier of mechanical auto parts & parts, manufacturing systems titanium necklace & service edc titanium vehicles. titanium glasses frames Titanium auto titanium curling wand sales.

    ReplyDelete