Judul: Just a Simple Wish
Cast: YongSeo, Snsd, CN Blue
Genre: Romantic
Rating: NC-17
Setelah turun dari mobil, aku segera
melangkahkan kakiku ke lantai empat. Aku tinggal di sebuah apartemen di daerah
kota. Aku menekan empat buah digit angka di sebuah panel pintu di lantai empat,
2228. Pintu pun terbuka dan aku melihatnya. Ia berdiri di balik pintu dengan
senyum yang selalu menarik perhatianku. Lelah karena konser selama dua hari dan
perjalanan selama tiga jam dari Jepang ke sini, hilang begitu melihatnya.
“Welcome
back,” sapanya. Sepertinya bukan aku saja yang merasa senang telah kembali.
Ia merentangkan kedua tangannya dan saat itu juga aku langsung menghambur ke
pelukannya.
Seminggu tidak bertemu dengannya
membuatku sangat merindukannya. Aroma parfum kesukaannya menguar kuat dari
lehernya. Aku suka sekali. Pelukanku semakin erat, ia juga.
“Aku kangen kamu,” ucapku, tanpa
berusaha menutupi yang kurasakan, meskipun aku tahu ia pasti tahu kalau aku
merindukannya, tapi ia lebih senang jika aku mengutarakannya.
“Aku juga,” balasnya seraya
mempererat pelukan kami. Tak lama, ia merenggangkan pelukannya dan melepasku,
sempat agak tidak rela sebenarnya karena aku ingin lebih lama memeluknya.
Ia menarik tanganku menuju meja
makan kecil yang sudah penuh dengan makanan. “Aku udah bikin makanan buat
kamu,” ujarnya dengan wajah yang terlihat senang dan sedikit bangga.
Aku duduk di salah satu bangku dan
ia duduk di seberangku. Ia menatapku dengan penuh harap ketika aku memasukkan
sesuap cream spagheti buatannya ke
dalam mulutku.
“Enak banget,” ucapku dengan tulus.
Kemampuan memasaknya benar-benar meningkat dibandingkan dengan tiga tahun lalu.
Ia terlihat senang sekali dengan
pujianku. Well, aku rasa setiap
wanita akan senang jika dipuji. Dulu, aku pernah lupa memujinya ketika ia
memakai kalung pemberianku dan itu membuatnya sedih dan cenderung marah
sebenarnya.
Setelah kami menghabiskan makanan
yang ia siapkan, ia membereskan dan mencuci piring-piringnya. Aku memperhatikan
punggungnya, sebuah pemandangan yang paling kusuka. Tanpa bisa kukontrol,
tahu-tahu tanganku sudah memeluk tubuhnya dari belakang. Ia sempat terkejut,
tapi tidak menolak pelukanku.
“Seems
like you become prettier, Hyun,” ujarku di telinganya.
Aku bisa melihat kalau ia tersenyum.
“I really love your perfume.” Lalu
kudaratkan sebuah kecupan di lehernya.
Ia menghentakkan tanganku, mendorong
tubuhku, menatapku nanar dengan kedua tangan di pinggangnya. “I’ve told you—”
“Iya, iya, kamu nggak suka. Maaf.”
Aku memotong kalimatnya. Ia memang benci sekali jika aku menyentuh lehernya
karena itu adalah salah satu tempat tersensitifnya.
“Kalo orang lagi ngomong itu jangan
dipotong, nggak sopan.” Ia malah terlihat semakin marah sekarang.
“Iya, maaf,” kataku lagi, tidak
sepenuhnya menyesal, padahal dulu ia tidak akan bisa marah seperti seperti ini.
Ia masih menatapku dengan mata
tajamnya. Jika matanya itu bisa mengeluarkan laser, aku pasti sudah hangus.
“Iya, Hyun, maaf. Jangan marah mulu ah, kan aku baru pulang.” Aku mencoba
membujuknya.
“Lagian Oppa ngeselin,” jawabnya dengan nada ketus.
“Iya, tapi kan aku udah minta maaf.”
Aku masih berusaha membujuknya.
“Jangan deket-deket!” perintahnya
padaku yang mendekatinya. Suaranya itu terdengar seperti perintah dari komandan
ke bawahannya.
Dengan menekuk wajah, aku
membalikkan tubuhku dan berjalan menuju sofa yang berada agak jauh dari dapur.
Setelah memastikan aku berada jauh darinya, ia melanjutkan kegiatan mencuci
piringnya. Aku menggonta-ganti saluran televisi dengan kesal. Tidak ada satu
pun acara televisi yang menarik perhatianku. Jadi, aku mematikan televisi dan
mulai googling dengan Ipad milikku.
Foto-foto kedatanganku di bandara tadi mendominasi berita hari ini. Tanpa
kusadari, ternyata ia sudah duduk di sebelahku dan ikut membaca.
“Nggak ada oleh-oleh?” tanyanya
dengan suara yang terdengar biasa dan mata yang tetap tertuju pada layar Ipad.
“Ada, tapi males ngambilnya, nanti
aja,” kataku yang masih agak kesal.
Lagi-lagi ia menatapku tajam. “Iya,
iya, aku ambil sekarang.” Aku bangkit dari sofa, membuka tasku yang berada di
dekat meja makan, mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru tua. Ia langsung
membukanya begitu aku memberikannya.
“Wow, bagus banget, Oppa.” Dan matanya berbinar senang,
sepertinya ia benar-benar telah melupakan kekesalannya tadi.
“Iya dong, siapa dulu yang beli?”
sahutku dengan bangga. “Ini samaan lho, liat.” Aku memamerkan sebuah gelang
perak di tangan kananku. Lantas kupakaikan sebuah gelang yang sama persis
dengan milikku di tangan kirinya. Setelah itu kami berfoto bersama, memamerkan
gelang kami.
“Makasih, Oppa,” ucapnya dengan senyum lebar dan pandangan hangat.
Aku menunjuk-nunjuk bibirku.
Seketika itu juga, pandangan hangat dan senyum lebarnya menghilang.
“Oke, nggak jadi. Aku cuma
bercanda,” kataku buru-buru meralat sebelum ia kembali meradang. “Nanti kamu
pake kan gelangnya ke premiere?” aku
mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Nggak ah, nanti ketauan kalo kita
samaan lagi,” tolaknya dengan datar.
“Kok gitu? Aku kan udah beliin, masa
nggak dipake?” Jelas aku tidak terima dengan penolakannya.
“Selama ini orang-orang udah pada
curiga sama kita, Oppa,” katanya.
“Ya, terus kenapa? Toh kita emang
beneran pacaran.”
“Iya, tapi kita kan nggak bisa
semudah itu ngaku, Oppa. Karir kita
bisa berhenti.”
Perdebatan reguler kami pun bergulir
kembali. Kami adalah pasangan selebriti. Ia termasuk dalam salah satu anggota girlband paling populer saat ini dan aku
adalah anggota band rock yang sedang naik daun. Kami sudah
berpacaran selama tiga tahun. Tadinya kami hanya mengikuti sebuah acara variety, We Got Married, selama setahun. Akan tetapi, setelah program itu
berakhir, aku tidak bisa melupakannya dan aku memberanikan diri untuk
menyatakan perasaanku. Dengan malu-malu ia menerimaku dan kami pun masih
bertahan hingga saat ini. Mengumumkan hubungan kami secara terang-terangan
adalah hal yang tidak diperbolehkan oleh agensi kami, terutama agensinya.
Memuakkan sebenarnya karena kami harus sembunyi-sembunyi, tapi daripada aku
tidak bisa memilikinya, itu lebih memuakkan.
“Ya udah ah, terserah, mau dipake
atau nggak,” kataku dengan nada ketus. Lalu bangkit dari dudukku.
“Mau ke mana kamu?”
“Siap-siap ke premiere,” jawabku, masih dengan nada ketus.
“Tuh marah deh. Kamu kan tau aku
bukannya nggak mau pake gelang dari kamu, tapi nanti kita dateng ke acara yang
sama, Oppa. Pikirin reaksi
orang-orang kalo kita dateng ke satu acara yang sama terus pake gelang yang
sama.” Ia berusaha menjelaskan sikapnya.
“Ya, makanya aku bilang terserah mau
dipake atau nggak.”
Aku mendengar ia menghela napas
dalam. Ia bangkit dan berdiri di hadapanku. “Jangan marah.” Ia mengelus-elus
pipi kiriku. Setelah itu, sebuah kecupan ia daratkan di bibirku.
Aku masih suka terkejut jika ia
bersikap seperti ini karena dulu, untuk berpegangan tangan saja kami
membutuhkan waktu lima bulan. Namun, sekarang, ia bisa dengan tiba-tiba
menciumku, seperti yang tadi ia lakukan. Kutarik pinggangnya dan menciumnya dan
ia membalasnya tanpa segan-segan.
“Iya, nanti aku pake gelangnya.
Puas?” katanya setelah aku melepasnya.
Aku tersenyum lebar lalu mengangguk.
“He-eh.”
Malam itu kami tidak datang
berbarengan ke acara peluncuran film Mr. Go. Ia datang dengan dua anggota girlband-nya—Taeyeon dan Yoona—dan aku
datang dengan anggota band-ku yang
lain—Jonghyun, Jungshin, dan Minhyuk. Kehadiran kami benar-benar menjadi berita
dan paling populer dibicarakan di internet. Netizen juga memergoki gelang kami
yang sama. Sebenarnya aku tidak pernah takut jika hubungan kami terbongkar,
tapi posisinya bisa terancam dan baginya yang terpenting saat ini adalah
karirnya. Aku tahu perjuangan yang ia lakukan untuk jadi seperti sekarang ini
tidaklah mudah. Jadi, ketika agensi menekan kami untuk mengakhiri hubungan
kami, aku menyetujuinya karena agensinya takut dengan skandal-skandal yang
semakin banyak tentang kami akan mempengaruhi karirnya.
Ia menangis sesunggukan dan jangan
dikira aku tidak. Aku berusaha meyakinkannya kalau inilah yang terbaik buatnya
dan itu malah membuat tangisnya semakin deras. Melepasnya saat ini adalah
pilihan yang terbaik, aku mengulang kalimat itu berkali-kali di benakku,
berharap dapat mengurangi perih di hatiku.
2228
Sudah empat tahun sejak aku
melepasnya. Ia benar-benar sudah terkenal di seluruh pelosok dunia, bahkan
ketika aku ke Yogyakarta, sebuah kota di Indonesia, dua minggu yang lalu, ada
beberapa orang yang menanyakan kabarnya padaku. Ah… membuatku rindu saja. Bukan
pekerjaan mudah melepasnya, bahkan sampai sekarang aku masih mencintainya. Ia
adalah wanita pertama yang membuatku benar-benar mencintainya.
“Hyung.”
Suara Jungshin yang tiba-tiba masuk ke kamarku membuatku terperanjat.
“Apaan, sih?” kataku yang merasa
terganggu.
“Liat deh.” Ia menyodorkan Ipad miliknya
dan menunjuk sebuah artikel.
“Seohyun memiliki tato?” aku membaca
judul artikel tersebut dengan nada bingung. Sejak kapan ia menyukai tato?
Karena mulai tertarik dengan berita itu, aku kembali membacanya.
Siang
tadi (17/06), Seohyun yang baru saja kembali dari konsernya di Jakarta,
Indonesia, terlihat memiliki tato di siku tangan kanannya. Sepertinya bukan
tato permanen dan yang menarik lagi adalah tato tersebut menggunakan huruf
asing, bukan hangul. Belum ada yang mengetahui arti dari tato tersebut.
Lalu beberapa fotonya terpajang. Aku
bisa melihat dengan jelas tato yang dimaksud. Tatonya ditulis menggunakan huruf
Sansekerta dan aku tahu arti dari tato tersebut karena aku memiliki tato yang sama
di siku tangan kiriku. Salah satu fans kami yang menawarkanku untuk membuat
tato dengan huruf Sansekerta ketika aku berkunjung ke Yogyakarta. Arti dari
tato itu adalah YongSeo, Yonghwa- Seohyun, namaku dan namanya. Namun, netizen
belum menyadari tatoku karena selama ini aku menutupinya dengan memakai
baju-baju berlengan panjang.
“Lo janjian, Hyung?” tanya Jungshin yang juga terlihat terkejut dengan berita
itu.
Aku menggeleng. “Nggak. Ahh… gue
seneng, Jungshin. Hahahaha….” Aku memeluk Jungshin saking senangnya.
“Kalo ternyata Hyun nggak ngerti
sama maksud dari tato itu gimana, Hyung?”
Senyum di wajahku langsung hilang
dan kudorong tubuh Jungshin menjauh. “Heh! Elo tuh ya, nggak bisa banget
ngeliat gue seneng,” marahku.
“Hehehehe piss, Hyung.” Ia membuat tanda “V” dengan jarinya lalu lari keluar dari
kamarku.
Tiga hari setelah itu, tato miliknya
diketahui berasal dari bahasa Sansekerta, bahkan artinya pun telah diketahui.
Itu menjadi berita yang heboh tentu saja. Ia menjadi pencarian paling populer di
internet. Agensinya belum mengeluarkan pernyataan resmi atas berita itu. Seohyun
ceroboh. Dulu aku melepasnya karena tidak ingin karirnya hancur atas skandal
kami. Namun, lihat sekarang. Ia malah menimbulkan berita sebesar ini, meskipun
aku senang juga ia memiliki tato itu dan mempublikasikannya.
2228
Ia di sana, sedang berbicara dengan
salah satu artis lelaki senior di agensinya, Jung Mo. Menyebalkan sekali
melihatnya, apalagi ketika mereka tertawa dengan lepasnya. Aku tidak melepaskan
pandanganku dari mereka hingga Jung Mo menyadarai kehadiranku dan
menyenggolnya. Akhirnya aku memutuskan untuk menghampiri mereka. Kupasang
sebuah senyum palsu di bibirku.
“Hyung,”
sapaku pada Jung Mo yang memang lebih tua dariku seraya mengulurkan tangan.
“Yonghwa,” sahutnya yang menyambut
uluran tanganku. “Ngapain ngeliatin dari jauh aja?” belum apa-apa ia sudah
melemparkan pertanyaan yang cukup menohokku.
“Ah… nggak apa-apa, abisnya tadi
kayaknya lagi asik banget ngobrolnya. Jadi nggak enak nyamperinnya,” jawabku
sekenanya.
“Yaelah, masih aja jealous sama gue,” sindirnya lalu
tertawa.
Aku juga ikut tertawa. Sial.
Bagaimana bisa aku tidak cemburu padanya? “Nggak, Hyung, gue biasa aja,” dustaku.
“Hahahahaha iya deh deh, terserah,”
sahutnya. “Seohyun, gue duluan ya,” pamitnya pada Seohyun yang lalu
menganggukkan kepalanya. “Yonghwa, stop
being jealous with me.” Ia memasang tampang serius ketika mengatakan itu.
“Iya, Hyung,” sahutku sekenanya. Lelaki mana yang tidak cemburu padanya
coba?
“Halo, Oppa, apa kabar?” sikap Seohyun terlihat santai, tapi aku tetap
merasakan kecanggungan.
“Baik,” jawabku, meskipun tidak
sepenuhnya begitu. “Tatonya keren, artinya apa?” aku menunjuk siku tangan
kanannya dengan mataku.
“Ahh… ini?” ia memperlihatkan
tatonya padaku. Ini huruf Sansekerta. Waktu ke Indonesia sempet jalan-jalan ke Yogyakarta
sama Bali terus pas di Yogyakarta, ada fans yang nawarin buat bikinin tato
gratis. Ya udah, aku mau aja.” Pemaparannya itu tidak menjawab pertanyaanku.
“Jadi, kamu nggak tau artinya?”
selidikku dengan nada tak sabar.
Ia menggangguk. “Tau, bukannya Oppa juga tau?”
“Hah? Ah iya, dari internet,”
jawabku yang tidak sepenuhnya berdusta.
“Bukannya Oppa uda tau artinya jauh sebelum para wartawan tau?”
Oke, itu bukan sekadar pertanyaan.
Lihat matanya itu, meskipun ia memasang tampang innocent, tapi matanya menatapku tajam, siap menembakkan laser jika
aku salah bicara.
“Hmm…” aku ragu-ragu sejenak,
bingung sebenarnya ingin jawab apa. “iya, tau.”
Ia menganggukkan kepalanya. “Oh… tau
dari mana?”
Sebenernya apa yang ingin ditanyakan
olehnya? Ia membuatku bingung.
“Ah, itu…” aku menggantungkan
kalimatku. “kamu kenapa nunjukin tato itu ke orang-orang? Sekarang jadi gede
gini beritanya, nggak takut?” sebuah pertanyaan pengalih perhatian kuajukan
padanya.
Ia mendengus, mungkin kesal karena
aku tidak menjawab pertanyaannya. “Kenapa?
Oppa takut?”
Aku mendengar nada menantang di
suaranya. “Hyun, aku ngelepas kamu biar kamu nggak kena skandal. Kenapa
sekarang malah kamu sengaja bikin skandal, sih?”
“Oppa,
keganggu ya, sama beritanya? Maaf, tapi aku nggak bakal berusaha buat nutupin
tatonya.”
“Hyun—”
“I
just don’t wanna be a coward again, Oppa,”
ucapnya dengan tegas. Dari matanya juga aku tahu kalau ia serius.
“Nona Seohyun, dua menit lagi.”
Seorang staf acara musik yang kami hadiri hari ini, memberitahukan waktu tampil
grup Seohyun.
“Oke, terima kasih,” sahutnya dengan
senyum ramah yang ditujukan pada staf yang seorang lelaki itu dan staf itu
senang bukan main karena diberi senyum oleh Seohyun. Cih, menyebalkan.
Matanya kembali tertuju padaku. “Aku
duluan, Oppa,” pamitnya.
“Hem.” Aku menganggukkan kepalaku.
Punggungnya itu, punggung yang
kurindukan. Tanpa sadar aku menghela napas dalam-dalam. Sepertinya rindu empat
tahunku tidak dapat tertahankan lagi. Sebuah ide pun terlintas di benakku. Aku
tahu ide itu berbahaya, tapi aku tidak peduli.
2228
“Seohyun, laki lo tuh,” ucap Fany
seraya menyenggolku yang sedang membaca sebuah buku belum yang lama ini kubeli.
Aku mengangkat kepalaku dan
mengarahkannya ke satu-satunya televisi yang ada di ruang tunggu kami. Aku
melihatnya, ia memakai sebuah kemeja lengan panjang berwarna biru cerah yang lengannya
ia lipat hingga siku serta celana denim berwarna biru dongker. Seperti biasa,
ia terlihat begitu kharismatik.
“Oh My God!” seru Fany tiba-tiba.
“Awww!” Yoona dan Sooyoung juga ikut
bersuara.
Mereka heboh karena Yonghwa beberapa
kali membuat gerakan tangan dengan tangan kirinya dan itu membuat sebuah tato
di siku kirinya terekspos. Awalnya aku tidak yakin dengan arti tatonya itu,
tapi karena ia sengaja memperlihatkannya berkali-kali, aku jadi yakin kalau
tatonya itu adalah tato yang sama denganku. Bibirku mengembangkan senyum lebar,
mungkin siapa pun akan tahu kalau aku sedang senang.
“Seohyun, dia juga punya tato itu?”
tanya Taeyeon, leader di grup kami.
“Aku juga baru tau, Eonni,” kataku yang memang baru tahu
dengan tatonya itu.
“Ejieee, Seohyun, girang banget
kayaknya,” goda Sooyoung.
“Ahh, Eonni….” Kusentuh rambutku dan ini adalah hal yang kulakukan ketika
aku sedang gugup.
Godaan dari semua anggota di grup-ku
tidak kupedulikan. Aku terlalu senang dengan tindakan lelaki itu. Orang yang
mentatoku tidak mengatakan kalau Yong Oppa
juga memiliki tato yang sama. Ia hanya memberitahuku kalau Yong Oppa tahu arti dari tatoku ini. Aku
bangkit dari dudukku, buku yang kubaca tadi sudah kutelantarkan sejak tadi,
keluar dari ruang tunggu kami dan pergi menuju ruang tunggu Yong Oppa.
Ketika aku membuka pintu, tidak ada
satu orang pun terlihat di dalamnya. Itu berarti mereka belum kembali. Aku
duduk di salah satu bangku yang ada di ruangan itu. Kuketuk-ketukkan kakiku ke
lantai dengan tak sabar. Tak lama, pintu dibuka dan masuklah Jungshin, disusul
Minhyuk, Jonghyun, dan terakhir lelaki itu—lelaki yang membuatku nekat memamerkan
tato dengan arti “YongSeo” di tanganku kepada orang banyak. Mereka terlihat
terkejut dengan kehadiranku.
“Eh, halo, Seohyun,” sapa Jungshin.
“Hai,” sahutku. “Kalian keren lho,
tadi,” pujiku.
“Makasih. Kamu juga keren tadi,”
balas Jonghyun.
“Beli minum, yuk. Haus nih,” ajak
Minhyuk cepat-cepat pada Jungshin dan Jonghyun yang lalu diiyakan.
Mereka pun keluar dari ruang tunggu
menyisakan aku dengannya. Aku tahu mereka hanya ingin memberikan kami waktu dan
aku berterima kasih untuk itu. Ia terlihat salah tingkah ketika aku menatapnya.
“Tatonya keren.” Aku membuka
percakapan karena ia tak kunjung bersuara.
“Ini?” ia juga memperlihatkan tato
di siku tangan kirinya seperti yang tadi aku lakukan. “Ini tulisannya
‘YongSeo’; Yonghwa dan Seohyun.”
“Wah, kok tato kita bisa sama ya?”
“Takdir?” ucapnya dengan sebuah
seringaian di bibirnya.
“Mungkin,” sahutku. “Ini bakal heboh
lho, nggak takut?”
“I
don’t wanna be a coward again.” Bahkan ia mengulang kalimatku tadi.
Aku tersenyum lebar, senang.
“Makasih, Oppa.”
Ia berjalan mendekatiku. “Sama-sama,
yeobo.”
Aku memeluknya. Sudah empat tahun
aku tidak memeluknya, badannya terasa lebih berisi dan berotot, terutama
tangannya. Aroma parfumnya menenangkan. Penyesalan karena dulu telah
melepasnya, hilang ketika aku memeluknya. Lelakiku.
Kukecup lehernya dan itu membuatnya
tertawa. Kulepaskan pelukanku dan memandangnya tajam. “Kenapa?”
“Sejak kapan kamu jadi suka nyium
leher aku?”
“Ah, itu… aku….” Aku gelagapan
menjawab pertanyaannya yang membuatku gugup dan salah tingkah.
Ia memegang kedua pipiku.
“Kamu-lucu-kalo-lagi-salah-tingkah.” Setiap jeda itu ia isi dengan mengecup
bibirku.
Aku mendorong tubuhnya dan memukul
tangannya. “Ish, Oppa.”
Ia malah tertawa lalu memelukku
lagi. Aku juga balas memeluknya. Ia adalah lelaki pertama yang membuatku
mengerti tentang cinta. Jadi, mana mungkin aku melepasnya begitu saja? Dulu aku
bodoh, tapi tidak sekarang. Aku tidak akan peduli lagi dengan yang orang-orang
katakan. Aku hanya tidak ingin kehilangan lelaki yang berarti bagiku.
2228
Ketika kubuka mataku, hal yang
pertama kulihat adalah dia, Hyun-ku, wanitaku. Ia masih terlelap di sampingku.
Napasnya teratur dan ia terlihat tenang sekali. Aku tidak bisa menahan diriku
untuk tidak mengecup keningnya. Namun, tindakanku itu malah membuatnya membuka
mata.
“Morning,”
sapanya, masih dengan suara serak.
“Morning,”
sahutku. “Enak tidurnya?”
“Hem.” Ia memelukku. “Aku mau tidur
sebentar lagi.”
Kuelus rambutnya yang sangat halus.
“Kayaknya sekarang kita jadi selebriti yang paling dicari lho.”
“Biarin.”
Aku tertawa mendengar jawabannya. “You’ve really changed, Hyun. You’ve become
bravier.”
“Is
it a compliment?”
“Hmm… we can say like that.”
“Well,
it’s you who changed me, Oppa. You didn’t like it?”
Aku pura-pura memikirkan jawabanku.
“Well, I don’t mind since I like it,
especially when you kiss me. Hehehehe….”
“Like
this?” lalu ia mencium leher, pipi, dan bibirku.
“Yeah,
like that. I love you, Hyun.”
“I
love you too, Yong Oppa,”
balasnya. “So, now can I sleep again?”
“Hahaha… iya, sayang, kamu bisa
tidur lagi,” jawabku seraya mempererat pelukan kami.
Seo Juhyun, gadis lugu yang
membuatku jatuh hati, kini menjadi gadis pemberani dan bisa menunjukkan
emosinya. Ia juga yang dulu canggung ketika pertama kali kami berpegangan tangan,
kini bisa dengan mudahnya memberiku sebuah ciuman. Seohyun, Hyun-ku, dulu
gadisku, sekarang wanitaku. Aku tidak peduli lagi dengan agensinya, aku hanya
ingin bersamanya. Apa selebriti tidak boleh jatuh cinta dan menjalin hubungan?
Aku dan Seohyun tetap hanya manusia, tidak lebih dan kami ingin bersama. Itu
tidak berlebihan kan? Keinginan yang sederhana, tapi kadang menjadi sulit
diwujudkan bagi kami, selebriti. Namun, sekarang aku hanya ingin menikmati
hidupku.
100713-220713
Gemala
Dwie Areta
@wii_here
Gemala_dwi

annyeong eonnie, i'm here to fulfill my promise haha
ReplyDeletei've read it. it's simple line but so sweet till the last words. i like it ^^
i hope uri yongseo will be in real marriage soon.. amiin
keep writing eonnie and fighting~
ps, you asked me abt sanserkta back then b/c of this? haha ahrasso
ㅋㅋㅋㅋ 고마워~~ gomawo~~
Deletei'll try to writing more..
p.s: yeah, this is why I asked you bout sansekerta.. hehehe
Dwi unnie...do you know me? Lol...I bet you don't know me, but I know you..hahaha
ReplyDeleteThanks for the story, unnie. It's totally sweet (too sweet for me, but I didn't mind at all haha...). I like you choose Yogyakarta for this story and sanskrit language for the tattoo..
Honestly, it's the first time I read yongseo ff in bahasa, but I like it..hehehe..
Keep writing unnie, I'll wait for your another story, fighting!
Ps: sorry for my messy english..hehe
is it itta? or puji? am i right? *or wrong ㅋㅋㅋ
Deletewell, thank you very much..
honestly, i really want have a tattoo like that hehehe
i'll try my best to writing ff again hehe
p.s: your english seems fine to me :-)
Unnie, Finally.. Itta is here.
ReplyDeleteAre u waiting for my comment?
Kekekeke.
Ceritanya simple tp sweet!!
Suka. Apalagi tiap bagian hyun yg marah ama yong. Kekekeke
hopefully that ys would be end up as sweet as ur story. Fighting unnie n keep going to write a lot of ys's story.
Chuuu~ :*
hahahah thank you, dongsaeng..
Deletei'll try my best :-)
ahh.. i really want it too.. semoga mereka nikah beneran kekekeke
Annyeong..finally I read your FF ^^
ReplyDeleteBtw I'm not good at commenting..kekeke.. but I always love yongseo story.
Like everyone said..its simple and sweet.. So keep on writing and make another sweet yongseo story. Hwaiting!!
I always hope yongseo will be marriage soon in real life. I believe all gogumas expect the same :)
ahh.. finally Kiki unnie ㅋㅋㅋ
Deletethank you, unnie.. :-*
i really hope they're get married too..
Siska dataaaannggg....
ReplyDeleteHihi.....
Mianhae unni baru bisa bacaa ㅠ.ㅠ
Sibuk kerja /plak/
Yg laen komen pke b.ing aku pake b.indo gpp ka yah? Hoho...
Awal2nya bingung ini POVnya siapa..
Baru sadar pas mrka makan bareng... oh ternyata yong POV
Trus pas d tgh2 ad pergantian POV jd k hyun kan yah? Nah itu jg dikit bingung. Tp ketolong karna kalimat pertamanya buat kita tau kalo itu hyun POV trua ganti lg jd yong ampe terakhir...
Ceritanya suka banget akuuu....
Hyun skrng jd lbh berani berekspresi.
Trus yong masih so sweet dan sangat nurut ama hyun~ /suami idaman/
Cuma bingung d tata bahasa ama POVnya aja...
Selebiihnya kereeeeennnnnn.......!!!!!!!! Paje bangetzzzzzzz...... hihihi...
Kall buat ff yongseo lagi kasih tau aku lagi yah un... tp blm tntu langsung di baca.... hihihi ..
Fightiiiing unniiii ^0^)/
sissskkaaa... muaciihhh..
Deleteitu hyun begitu kan aku ajarin hahahaha
iyaa, aku emang sengaja ga ngasih keterangan itu pov-nya siapa.. hehe
iyaa, nanti aku bilang lagi ke kamu, sis.. harus dibaca tapi *eh maksa haha
anyway, makasih banget, siska..
hallo,seilaa ni.Aku menuhin janji unuk baca and comment.
ReplyDeleteseru ya critanya,sweet and lucu lia yonghwa yg kayaknya kok in love amat sama hyun.
aku jg suka bikin cerita,tp blm pernah bikin yongseo,nanti kl aku bikin,diliat ya.
aku paling suka bagian yg hyun jd lbh dewasa dan gak sungkan lagi untuk mendaratkan ciuman di bibir yonghwa.Memang seperti itu kan perempuan pada umumnya,kalau sudah terbiasa dlm menjalani hubungan,nanti akan berani menunjukkan bentuk sayangnya ke kekasihnya,menunjukkan kenyamanan yang dia rasakan dalam sebuah hubungan.
bikin lagi coba,yang cinta segi tiga mungkin.
nice story,keep writing,okay.
seilaa
halloww, seila.. maacih uda mampirr.. hehehe
Deleteaku emang berharap Hyun jadinya seberani aslinya sama Yong hehehe
ini juga ff pertama yg jadi lho.. hahaha
iyaa, bilang2 ya nanti kalo bikin..
makasih lagi, seil.. :-)
bagus ko aiy. tapi gue gaa begitu ngerti sama kebiasaan yongseo, you know lah bias gue siapa hehe. gaya bicaranyaa kaya gaya bicara lu tau haha apal banget gue sama gaya bicara lu. keep writing aiykuh :*
ReplyDeletehahaha iyaa, tau gue..
Deletehah? gue banget? emang ya?
anyway, makasihhh aiicutkuh muah muah :*
kak udah baca lhooo... membayangkannya saja bikin merindingg hahaha congrats:)
ReplyDeletehuahahaha makasih yaa uda bacaa.. :-*
Deletep.s: mana yg bikin merinding deh? hahahaha
hahaha sorry mayori strowberry wii unn baru nemu blog ini,,
ReplyDeleteini sweet pake banget.. bikin nyengir gak jelas hahaha
keep writing unn, fighting !! :))
Iyaa, ga papa, mit.. ini udah lama aku bikin juga hehehe..
DeleteMakasihh, ya, udah baca hehehe..
Sukaaaaaaa. Tp kurang bedscene nya. Wkwkwkw. Kapan bkin ff ys lagi niy? Kangennnn euy. Jd inget lagu one fine day 😢😢 tp gpp asal mrka happy ending yaa. Fighting eonnie bikin lg yg bnyak yaaaa
ReplyDeleteHahahaha dasar byuntae..
DeleteAkhirnya baca juga nih anak.. makasih banget banget, yaa..😘😘
Titanium Auto Sales Sales 2021 - TITanium Robotics
ReplyDeleteTITanium is titanium ingot a supplier of mechanical auto parts & parts, manufacturing systems titanium necklace & service edc titanium vehicles. titanium glasses frames Titanium auto titanium curling wand sales.